Menangkap Laba Kupu-kupu Palsu

April 7, 2009

Detikcom. 7 Apri 2009 Kecantikan kupu-kupu banyak memberikan inspirasi. Tak hanya kupu-kupu hidup yang kepompongnya bernilai mahal, bisnis kupu-kupu palsu pun tak kalah serunya dalam menjaring laba.

Di Kota Malang tepatnya dikawasan Tepus Kaki, banyak ditemukan perajin pembuat miniatur hiasan kupu-kupu yang banyak memanfaatkan sampah bola bulu tangkis (shuttlecock).
 
Adalah Titik Murtini salah seorang perajin pembuat kupu-kupu buatan (bros dan asesoris), memulai usaha kerajianan kupu-kupu buatan sejak tahun 2004 lalu. Ia terbilang cukup berhasil mengembangkan bisnis ini hingga produk kupu-kupu buatannya mampu menembus pasar ekspor.

Ide kreatif ini tidak hanya menghasilkan kepuasan batin sendiri bagi sang kreatornya, namun bisa juga mendatangkan rupiah yang menjanjikan.
 
Awalnya tidak ada yang menyangka sampah shuttlecock yang dibuang sia-sia justru bisa diolah menjadi produk-produk yang indah dan memiliki nilai tambah yang tinggi bahkan berdaya saing ekspor di pasar internasional.
 
Hingga kini setidaknya produk kupu-kupunya sudah melanglang buana ke seantero dunia, mulai dari pasar Eropa, Amerika, Asia. Misalnya saja untuk pasar Amerika produk kupu-kupunya cukup laris di Kolombia, Meksiko, untuk Asia cukup diminati di Thailand, Malaysia. Harga yang dijual pun cukup kompetitif dan terbilang murah misalnya untuk pasar Eropa ia menjual untuk satu kupu-kupu buatannya hanya 1 euro.
 
“Produk saya ini sudah keliling dunia,” kata Lilik kepada detikFinance akhir pekan lalu.
 
Pasar ekspor adalah awal produksnya dikenal. Ketika itu beberapa rekannya yang ke luar negeri membawa contoh produk kupu-kupunya. Alhasil, respons pasar cukup mencengangkan, semua produknya ludes terjual.

Mulai dari situlah ia mulai percaya diri untuk ekspansi ke pasar-pasar lainnya seperti Amerika di Meksiko dan Kolombia. Tak tanggung-tanggung, Lilik bukan hanya mendapat keuntungan menjual kupu-kupu, namun status mendapat menantu kebangsaan Meksiko pun diraihnya.
 
Mantan karyawan disain interior ini, terus mengembangkan usahanya dengan membuat terobosan-terobosan baru, misalnya mencari bahan baku alternatif dan mengembangkan bentuk-bentuk miniatur hiasan di luar kupu-kupu. Hasilnya, sangat luar biasa, para pembeli semakin tertarik dengan produknya.
 
“Saya juga kembangkan diluar suttlecock, dari daun juga, stocking, kain perca. Selain kupu-kupu, semua serangga dan binatang saya buat, capung, burung ,kelelawar dan lain-lain,” jelasnya.
 
Bicara soal hitungan-hitungan modal, terjun ke bisnis ini sangat menjanjikan, selain modal yang kecil dengan hasil menjanjikan, juga produk-produknya cukup tahan lama. Lilik menjelaskan, dari modal satu karung limbah suttlecock yang harga satu karungnya hanya Rp 50.000 bisa ia sulap menjadi 3000 buah kupu-kupu buatan dengan berbagai ukuran.

Harga satu buah kupu-kupu buatannya dihargai Rp 750-Rp 1.000 per buah. Jika dikali 3000 maka setidaknya uang Rp 2,5 juta sudah ditangan dengan dipotong biaya pewarnaan dan komponen lainnya.
 
Meskipun untuk jenis ukuran tertentu dan untuk keperluan khusus seperti souvenir perkawinan, ia pasang harga lebih tinggi dengan rentang harga Rp 2.500 sampai Rp 15.000 untuk ukuran besar.
 
“Setiap bulannya saya mampu produksi 30.000 sampai 50.000, saya dibantu 20 karyawan saya. Kalau kelebihan order saya beli dari trader atau perajin lain,” ucapnya.
 
Meskipun masuk dalam katagori industri rumahan, omset yang ia raup dari kerajinan bros dan asesoris kupu-kupu cukup besar, setidaknya setiap bulan minimal ia bisa mengantongi omset mencapai Rp 50 juta.
 
“Tantangan sekarang ini, karena di Malang sudah banyak, sehingga banyak perajin yang menjatuhkan harga,” keluhnya.
 
Lilik mengakui meskipun saat ini terjadi krisis, permintaan produknya tidak menyurut, dari total produksinya hampir 35% ia ekspor ke pasar internasional sedangkan 65% ia lempar ke pasar dalam negeri. Dengan jujur ia mengatakan pasar dalam negeri belum tergarap semuanya khususnya di luar Pulau Jawa.
 
“Pasar di luar Jawa masih sangat potensial, ini sebenarnya peluang,” katanya.
 
 Alamat:
 
Ryo handicrafts
(Lilik Murtini)
Jl. Tepus Kaki 27 Malang 65141 Jawa Timur

Peluang Usaha Membuat Lampion

Februari 13, 2009

JAKARTA. Bagi sebagian orang, barang-barang bekas yang sudah tidak bernilai dan teronggok sia-sia di tempat sampah bisa dijadikan ladang usaha yang menghasilkan uang, bahkan tak jarang uang yang didapat dari pemanfaatan barang bekas tersebut bernilai tinggi. Asalkan ada ide kreatif dan juga sedikit usaha. Itulah yang dialami Bob Novandy, di tangannya yang terampil ia mampu menyulap semua jenis botol plastik bekas menjadi sebuah prakarya yang bernilai tinggi. “Saya merubah berbagai jenis botol plastik menjadi lampion-lampion cantik,” ujar Bob. Ide membuat lampion dari bahan botol bekas memang tidak begitu saja muncul dalam benaknya. Pria setengah baya ini mendapat ide itu ketika suatu siang ia duduk di depan rumahnya dan melihat seorang anak membuang botol air mineral sembarangan.”Saya kemudian berpikir botol seperti itu daripada menjadi sampah penyebab banjir, lebih baik dimanfaatkan menjadi sebuah prakarya,” katanya. Setelah itu mulailah Bob menjajal idenya ini dengan melakukan percobaan demi percobaan membentuk lampion sesuai keinginan yang ia mulai pada tahun 2003. Waktu itu ia hampir tidak menyiapkan modal apa-apa, hanya botol bekas, cutter dan pilox untuk mewarnai. Ternyata tetangga sekitarnya di kawasan Kebun Jeruk Jakarta Barat menyukainya. “Pertama kali saya produksi 20 buah lampion untuk acara perayaan kemerdekaan RI dengan lampion bewarna merah dan putih,” jelasnya. Bob menjual hasil karyanya seharga Rp 12.500 per lampion waktu itu. Tak hanya botol mineral, Bob juga menggunakan berbagai macam botol minuman ringan bekas pakai baik berbahan plastik maupun kaleng.Semua bahan baku botol bekas ia peroleh dari pengumpul bahan bekas di dekat rumahnya. “Kebutuhan bahan baku botol bekas tergantung dari pesanan yang datang setiap bulannya,” ujarnya. Tahun 2006 lalu Bob mendapat proyek pesanan dari Taman Safari sebanyak 280 unit lampion dan 86 lampion lainnya untuk hotel yang berfungsi sebagai hiasan. “Waktu itu masih murah, dari 366 buah lampion harganya cuma Rp 6 juta. Saya ambil untung Rp 20.000 untuk setiap lampion,” katanya. Bob sering mendapat pesanan dari berbagai cafe dan restoran di Jakarta, bahkan tak jarang ia pun mendapat pesanan dari perusahaan-perusahaan besar. “Kalau pesanan banyak seperti itu saya bisa dapat omzet hingga Rp 11 juta dalam sebulan,” kata Bob. Ia mampu mengerjakan sekitar 350 buah lampion setiap bulannya, harganya bervariasi tergantung dari tingkat kesulitan pembuatan lampion dan ukuran lampion. Kisaran harga yang ia tetapkan berkisar Rp 35.000 sampai Rp 800.000. Lampionnya diberi lampu dan kaki untuk dudukan lampion. “Jika dilihat sekilas pada malam hari ketika lampu dalam lampion dinyalakan, orang sering mengira lampion ini berasal dari bahan kristal,” katanya. Menghasilkan prakarya seperti ini memang membutuhkan keterampilan tersendiri. Namun peralatannya begitu sederhana, hanya bahan utama berupa botol plastik bekas, lampu, kabel, alat pemotong dan piloks. Cara pembuatannya setelah botol dibersihkan, buat garis samar untuk jalur pemotongan baru dipotong sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Setelah itu warnai dengan piloks dan pasang lampu serta kabel. lalu langkah terakhir membentuk lampion dari irisan-irisan yang telah dibuat. “Dalam sehari saya bisa membuat sekitar 15 buah lampion,” ujarnya. Bob`s Lampion Jl. Jeruk Manis no. 59 Kebun Jeruk Jakarta Barat Telp : (021) 44626255 Sumber: http://www.kontan.co.id/index.php/Nasional/news/7276/Benderang_Laba_dari_Lampion_Barang_Bekas

Industri Kreatif Tumbuh 15 Persen

Januari 19, 2009

Kamis, 24 Mei 2007 | 00:10 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Industri kreatif di Indonesia tumbuh 15 persen setiap tahunnya. Sepanjang tahun 2006, industri kreatif telah menyumbang 33,5 persen dari produk domestik bruto. Angka ini setara dengan US$ 77 miliar atau Rp 693 triliun dengan kurs Rp 9.000. Namun, perkembangan industri ini terhambat karena ketiadaan pemetaan industri kreatif nasional.

“Dengan ada pemetaan industri kreatif secara nasional, pertumbuhan industri ini bisa lebih signifikan,” kata Ketua Forum Grafika Digital, David B Mihardja dalam seminar Creative Industry Mapping, Jakarta, kemarin.

Beberapa pihak berkepentingan di industri kreatif tengah menyusun pemetaan industri kreatif. Selain FGD, pemetaan industri didukung oleh The British Council dan Universitas Bina Nusantara. Pihak yang berkecimpung dalam industri kreatif mencakup bisnis promosi, penerbitan, dan kemasan ( packaging).

“Industri yang juga terkait adalah semua bisnis yang berhubungan dengan kreatifitas seperti produk kerajinan tangan,” kata David. Selain itu, industri media dan rumah produksi masuk klasifikasi industri ini.

Menurut David, negara luar seperti Singapura dan Inggris telah memiliki pemetaan industri kreatif. Sehingga industri kreatif di sana sangat berkembang pesat. Industri kreatif Singapura memiliki kontribusi sebesar 5 persen dari produk domestik bruto atau US$ 5,2 miliar. Kemudian pada 2012 diperkirakan tumbuh 10 persen. Sementara kontribusi industri kreatif Inggris sekitar 8,2 persen atau US$ 12,6 miliar.

Pemetaan industri kreatif ditargetkan selesai pada Juli dan diluncurkan pada Agustus 2007. Hingga kini, pemetaan industri kreatif telah mengajak kerja sama pemerintah yakni, Departemen Komunikasi dan Informatika, Departemen Perdagangan, dan Departemen Perindustrian.

Menurut perwakilan British Council, Yudhi Soerjoatmodjo, kontribusi British Council untuk pengembangan pemetaan industri kreatif dengan mendatangkan dua ahli industri kreatif asal Inggris. Selain itu, Inggris berperan serta karena saat ini industri kreatif Inggris berkembang pesat hampir menyaingi Amerika Serikat.

Yuliawati

Bechmarking

Januari 10, 2009

Benchmarking adalah sebuah proses mengukur kinerja internal organisasi, membandingkan dengan performa terbaik di kelas yang sama dan menganalisis bagimana mereka mencapai stadar tersebut. Informasi tersebut digunakan untuk menyusun target, strategi dan implementasi perusahaan.

Pada persaingan dengan perusahaan-perusahaan publik, maka sebuah standar industri sangat mudah dibuat, paling tidak untuk parameter keuangan yang dipublikasikan minimal dua kali setahun. Parameter tersebut dikelompokkan berdsarkan jenisnya dan terlihatlah angka rata-rata dari satu jenis industri untuk parameter tertentu, misalnya besarnya raw material cost, biaya produksi dan rasio-rasio keuangan yang lain. Selain angka rata-rata juga dapat dilihat perusahaan mana yang lebih baik dari angka rata-rata dan siapa yang terbaik (pemegang rekor/pencinta standar). Apabila anka-angak tersebut dimonitor selama bertahun-tahun maka akan mudah dilihat kinerja dari tiap perusahaan seiring berjalannya waktu.

Benchmarking bisanya merupakan bagian dari sebuah usaha yang lebih besar misalnya dalam sebuah Quality Improvement Project atau proses re-engineering. Sekali kita sudah menentukan parameter apa yang akan diukur dan bagaimana cara mengukurnya, maka obyektif selanjutnya adalah mengidentifikasi bagaimana sanga juara mencapai predikatnya dan apa yang harus dilakukan untuk dapat mencapai kesana.

Hal yang terpenting dalam benchmarking adalah kita dapat menentukan dimana posisi kita sekarang dibandingkan dengan rata-rata perusahaan lain di dalam industri. Apakah posisi saat ini berada di atas rata-rata atau malah sudah ditinggalkan oleh perusahaan lain yang sejenis. Dengan mengetahui posisi relatif terhadap perusahaan sejenis maka dapat ditentukan strategi apa yang harus diambil sehubungan dengan posisi tersebut. Perusahaan kita mungkin tertinggal dalam hal raw material cost tetapi mungkin juara dalam hal efisiensi tenaga kerja atau produktivitas. Benchmarking akan membantu menentukan dimana posisi pesaing utama sehingga secara obyektif bisa menimbang-nimbang kekuatan.

Benchmarking akan membantu dalam mengidentifikasi dimana terdapat potential cost saving dan dapat pula membantu dalam menentukan target performance untuk setiap departemen di Perusahaan. Bencmarkng juga dapat membantu memonitor kinerja perusahaan selama bertahun-tahun serta kecenderungannya. Apakah perusahan kita semakin kompetitif ataukan semakin tertinggal dari perusahaan lain.

Melakukan benchmarking akan membantu memahami tren industri yang digeluti dan best parctice yang terjadi di dlam dan di luar perusahaan. Membandingkan kinerja operasional perusahaan dengan rata-rata industri merupakan proses yang sangat obyektif dan meyakinkan bagi seluruh jajaran perusahaan. Seluruh staf akan merasa terpacu karena dinilai secara obyektif. Analisisi terhadap posisi persaingan menjadi sangat mudah, transparan serta tidak memakan waktu.

Sumber : Suseno Hadi Purnomo. Foodreview Indonesia desember 2008

DIDUKUNG UJI KLINIS; Omzet Tolak Angin Meningkat 60%

Desember 18, 2008

18/12/2008 09:18:09 YOGYA (KR) – Omzet Tolak Angin, produksi PT Sido Muncul mengalami peningkatan hingga 60%. Hal ini antara lain dikarenakan dukungan hubungan yang baik dengan jaringan distribusi yang sekarang lebih tertata, terdata dan rapi.
“Boleh dikatakan sekarang penyebaran produk Tolak Angin sudah mencapai 100%,” kata Wiwied Widyawati, Manajer Operasional PT Sido Muncul di sela-sela Gathering Manajemen PT Sido Muncul dengan jaringan distribusi dan agen penjualan produk Sido Muncul di Resto Pasifik Yogya, Selasa (16/12) malam. Hadir pada acara tersebut, Dirut PT Sido Muncul Irwan Hidayat yang melakukan dialog dan tatap muka langsung dengan mitra pendukung Sido Muncul tersebut.
Menurut Wiwied, jumlah pelanggan sekarang berkembang pesat dan di tingkat ritel, ketersediaan produk lebih besar. Untuk mendukung produk yang makin diterima pasar luas, Sido Muncul akan melakukan tambahan beberapa penelitian lanjutan. Kalau sebelumnya telah dilakukan penelitian masalah toksitisitas bekerja sama dengan Fakultas Farmasi USD Yogyakarta (2003), disusul bekerja sama dengan Laboratorium Bioteknologi Fakultas Kedokteran Undip Semarang soal khasiat (2006), maka pada 2009 nanti akan dioptimalkan penelitian terkait khasiat dan produk Tolak Angin.
Wiwied juga membenarkan bahwa sosialisasi hasil penelitian telah dilakukan di beberapa kota pada komunitas dokter, seperti kerja sama dengan IDI di Medan, Jakarta, Semarang, Banjarmasin, Lampung, Pakanbaru, dan segera menyusul Yogyakarta. Sosialisasi untuk memberikan wawasan pengetahuan pada dunia kedokteran akan kemajuan industri herbal dan hasil uji ilmiah, di samping juga dukungan regulasi soal herbal. “Karena, dokter juga pernah mengonsumsi produk ini sehingga bisa memberikan penilaian terkait hasil penelitian ilmiah ini,” tambahnya.
Dengan demikian, masyarakat juga tahu bahwa jamu pun melakukan uji klinis dan tak asal memproduksi. Dengan sosialisasi ini, diharapkan masyarakat akan makin mengenal dan mempercayai produk herbal tersebut.
(Rsv)-g

Mengenal Jenis-jenis Restoran

Desember 16, 2008

Menurut UU RI No. 34 Tahun 2000, restoran adalah tempat menyantap
makanan dan minuman yang disediakan dengan dipungut bayaran, tidak termasuk usaha jenis tataboga atau catering. Pengertian restoran menurut Marsum (1994), restoran adalah suatu tempat atau bangunan yang diorganisasi secara komersial yang menyelenggarakan pelayanan yang baik kepada semua tamunya baik berupa makan dan minum.
Menurut Marsum (1994) ada beberapa tipe restoran, yaitu:
a. Table D’ hote Restaurant adalah suatu restoran yang khusus menjual makanan menu table d’ hote, yaitu suatu susunan menu yang lengkap (dari hidangan pembuka sampai dengan hidangan penutup) dan tertentu, dengan harga yang telah ditentukan pula.
b. Coffee Shop atau Brasserie adalah suatu restoran yang pada umumnya berhubungan dengan hotel, suatu tempat dimana tamu biasa mendapatkan makan pagi, makan siang dan makan malam secara cepat dengan harga yang relatif murah, kadang-kadang penyajiannya dilakukan dengan cara prasmanan.

c. Cafetaria atau Café adalah suatu restoran kecil yang mengutamakan penjualan cake (kue-kue), sandwich (roti isi), kopi dan teh.
d. Canteen adalah restoran yang berhubungan dengan kantor, pabrik atau sekolah.
e. Dining Room, terdapat di hotel kecil (motel), merupakan tempat yang tidak lebih ekonomis dari pada tempat makan biasa. Dining Room pada dasarnya disediakan untuk para tamu yang tinggal di hotel itu, namun juga terbuka bagi para tamu dari luar.
f. Inn Tavern adalah restoran dengan harga murah yang dikelola oleh perorangan di tepi kota.
g. Pizzeria adalah suatu restoran yang khusus menjual Pizza, kadang-kadang juga berupa spaghetti serta makanan khas Italia yang lain.

h. Speciality Restaurant adalah restoran yang suasana dan dekorasi seluruhnya disesuaikan dengan tipe khas makanan yang disajikan atau temanya. Restoranrestoran semacam ini menyediakan masakan Cina, Jepang, India, Italia dan sebagainya. Pelayanannya sedikit banyak berdasarkan tata cara negara tempat asal makanan spesial tersebut.
i. Familly Type Restaurant adalah satu restoran sederhana yang menghidangkan makanan dan minuman dengan harga yang tidak mahal, terutama disediakan untuk tamu-tamu keluarga maupun rombongan

Pelatihan Budidaya jamur di Jogja

Desember 12, 2008


Banyak di antara pengunjung blog ini yang menanyakan berbagai hal tentang jamur tiram, mulai dari mencari bibit hingga pemasarannya. Banyak pula yang telah memberi komentar untuk menjawab pertanyaan atau memberi informasi bahkan menjadi penyalur atau menerima kiriman jamur. Sayang tidak semua pengunjung mau membaca seluruh komentar yang isinya bahkan lebih penting dari tulisan itu sendiri, sehingga sering pertanyaan yang sama diajukan ulang.

Untuk menambah tulisan agar sedikit membantu teman-teman yang ada di Jogja dan sekitarnya maka pada tulisan ini kamu muat profil tempat pelatihan jamur dari jogja. Bagi teman-teman yang juga memiliki tempat pelatihan tentang jamur atau yang lainnya ang dapat membantu saudara-saudara kita mengembangkan usaha kami persilahkan membuat artikel pendek untuk kami muat sebagai tulisan (anggaplah sebagai media promosi) yang tidak perlu bayar.

Kali ini yang kita promosikan adalah pelatihan jamur dari Bapak Ratudjo, pria kelahiran Singojayan Yogyakarta 64 tahun lalu. Beliau tinggal di Dusun Miron Desa Pandowoharjo Sleman, 800 meter dari Jalan Magelang (perempatan Beran). Bersama istrinya beliau membuka rumah makan ”jejamuran” yang memiliki banyak penggemar.

Di belakang rumahnya ada dua kubung (rumah jamur) ukuran besar untuk percontohan budidaya jamur. Disebelahnya ada ruang untuk melakukan pembibitan.

Usaha beliau semula adalah prmbibitan jamur. Agar usahanya laku maka beliau membuat percontohan budidaya. Setelah banyak petani yang melakukan budidaya beliau melihat petani kesulitan dalam pemasaran, harga lebih ditentukan oleh tengkulak sehingga petani sering rugi. Lalu beliau membuka usaha rumah makan untuk menampung hasil budidaya petani sekitar.

Tempat pelatihan beliau adalah Pusat Pendidikan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Volva Indonesia. Di tempat sahanya selain dilakukan pelatihan pembibitan, budidaya juga pasca panen.

Anda berminat?

JANGAN ASAL GUSUR WARUNG TENDA ; Industri Kreatif Berkembang Pesat di Yogya

November 27, 2008

 

 

27/11/2008 08:36:40 YOGYA (KR) – Industri kreatif memiliki potensi untuk berkembang di kalangan anak muda. Industri ini yang kemudian menjadi alternatif pengembangan usaha dan mampu menyerap orang-orang kreatif sekaligus ikut mendorong perekonomian DIY.
Wakil Ketua Komisi B DPRD DIY Nur Achmad Affandi mengungkapkan, indikasi berkembangnya industri kreatif di Yogyakarta ini terlihat dari cukup banyaknya mahasiswa yang bekerja partimer di bidang tersebut. Sebab kebanyakan pekerjaan di sektor industri kreatif bisa dilakukan di sela waktu kuliah.
Melihat potensi ini, menurut Nur Achmad, industri kreatif perlu ditumbuhkembangkan di Yogyakarta. Apalagi industri ini banyak dilakukan oleh kalangan muda, khususnya mahasiswa.
Cukup banyaknya mahasiswa yang bekerja secara partimer, terungkap dari hasil penelitian Bank Indonesia (BI) Yogyakarta bekerja sama dengan Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi UPN ‘Veteran’ Yogyakarta. Dari penelitian itu terungkap bahwa 42% mahasiswa memanfaatkan waktu luang dengan bekerja sebagai partimer. Penelitian itu juga menunjukkan, meski bekerja namun bukan menjadi sumber keuangan yang utama untuk kuliah. Orangtua masih menjadi andalan untuk menutup kebutuhan sekolah dan biaya hidup di Yogyakarta.
Meski demikian, tambah Nur Achmad, hasil penelitian ini dapat menjadi gambaran tentang kreativitas mahasiswa untuk bekerja, dan dari pengamatannya banyak yang mengembangkan industri kreatif.
Nur Achmad juga mengemukakan pentingnya Pemerintah Daerah memerhatikan usaha mikro bidang makanan. Karena sebagian besar mahasiswa di Yogyakarta, memilih warung tenda yang lebih terjangkau (35%) sebagai tempat makan sehari-hari. “Karena itu, kami tidak setuju jika kemudian warung-warung tenda ini justru menjadi ajang penggusuran. Justru mereka ini perlu diberdayakan dengan diberikan tempat yang baik,” ujar Nur Achmad.
Pihaknya setuju terhadap langkah Pemerintah Daerah yang menciptakan pusat jajan untuk menampung usaha mikro kecil bidang makanan, atau sejumlah warung tenda. Jika usaha mikro kecil ini diberantas, hanya akan membuka peluang usaha makanan modern yang justru nilai tambahnya bagi rakyat Yogya jauh lebih kecil. Apalagi usaha makanan tersebut investasinya dari asing.
Dari hasil penelitian BI dan FE UPN tersebut, seperti diungkapkan ketua tim peneliti Ardito Bhinadi SE MSi, keberadaan mahasiswa telah mampu menggerakkan kehidupan sektor informal yang bergerak di bidang makanan dan minuman. Hal ini tidak lepas dari preferensi mahasiswa yang memilih makan di warung tenda karena harganya relatif lebih terjangkau.
Tidak mengherankan jika kemudian di sekitar lingkungan kampus dan pondokan banyak berdiri warung tenda. Sedang mahasiswa yang memilih makan di rumah makan atau restoran sebanyak 32%, masak sendiri 8% dan makan bersama orang tua di rumah 24%.  (Jon/San)-s

Perencanaan Produk

November 24, 2008

Pada hari rabu menjelang pulang dari kantor datang dua orang dari Sidoarjo. Kedatangan mereka untuk bertanya tentang produksi xylanase dari jerami padi karena mereka habis membaca di internet bahwa ada mahasiswa Brawijaya yang penelitian tentang hal tersebut dan mereka ingin mengembangkannya untuk industri. Hal yan menarik untuk dicermati adalah keinginan yang besar mereka untuk berwirausaha namun sayang mereka ternyata belum tahu pasar yang dibidik, proses pembuatannya dan dari mana memperoleh mikrobianya.

Dalam perencanaan suatu produk tidak dapat dilakukan begitu saja, karena pada dasarnya suatu produk adalah barang (output) yang dihasilkan yang akan dijual untuk memperoleh keuntungan. Oleh sebab itu dalam perencanaan produk harus memperhatikan pemasaran, desain, manufaktur dan fungsi lainnya.

Dari sisi pemasaran yang harus diperhatikan adalah bagimana menerjemahkan peluang pasar dan mengidentifikasi segmen pasar. Sebelum memulai usaha kita harus terlebih dahulu melihat peluang pasar yang ada. Kita harus mengetahui tnggi rendahnya persaingan atau kompetisi yang ada. Semakin banyak kompetitor maka peluang akan semakin kecil. Produk enzim semisal xylanase memiliki segmen pasar yang terbatas, meskipun demikian dengan segmen pasar terbatas bukan berarti kesempatan makin besar tapi justru peluang pemasaran yang terbatas. Xylanase umumnya digunakan dalam industri dan bukan produk akhir sehingga konsumen kita adalah industri lain. Pemahaman terhadap konsumen ini menjadi penting karena berkait dengan kualitas produk yang akan dihasilkan yang harus memenuhi persyaratan konsumen dan bukannya kita yang memiliki persyaratan.

Pada sisi desain harus mempertimbangkan platform dan memperkirakan teknologi-teknologi baru. Pengetahuan tentang teknologi menjadi penting karena berkait dengan apa yang dapat kita lakukan. Adakah teknologi baru selain yang kita ketahui dan kemungkinan mengembangkan teknologi yang dimiliki. Dalam perencanaan produk pengetahuan tentang teknologi dan bahan baku juga harus dipertimbangkan. Perencanaan produk hanya melihat dari sebuah skripsi rasanya terlalu tergesa-gesa. Hasil skripsi harus diperhatikan dari sisi teknologi yang diterapkan dalam industri. Hasil ini yang nantinya dibawa ke manufaktur agar diketahui batasan-batasan produksi dan strategi rantai penawaran.

Keinginan untuk mengetahui teknologi lain juga perlu dilakukan agar dapat menentukan langkah yang akan diambil. Langkah selanjutnya apabila telah merasa kemantapan adalah manajemen keuangan dalam merencanakan sasaran dan sumber daya lainnya.

Jadi untuk merealisasikan suatu usaha tidak sekedar kita suka namun apakah ada yang suka dengan produk kita.

Semoga ada manfaatnya

Salam

Nur Hidayat.

WIRAUSAHAWAN?

November 20, 2008

E.F. Sri Maryani Santoso

Dosen TIP – FTP – UB

Wirausahawan dapat dikatakan sebagai orang yang memulai/mendirikan usaha sendiri ( bisnis ) dengan ciri tertentu (menciptakan sesuatu yang baru, menciptakan sesuatu yang berbeda, mengubah nilai nilai) dan mencari perubahan, merespons perubahan dan memanfaatkannya sebagai peluang. Wirausaha termasuk seorang pemberani dalam hal mencapai kesempatan maupun menghandapi resiko, tidak mengenal putus asa. Ciri-ciri yang dimiliki wirausahawan adalah sebagai berikut:

  • Pantang menyerah
  • Kebutuhan akan prestasi
  • Kemampuan melihat peluang
  • Berani mengambil risiko
  • Berorientasi pada realisasi ide
  • Punya rasa humor yang tinggi
  • Bisa dipercaya
  • Selalu mau belajar
  • Nyaman dengan perubahan
  • Kreatif dan inovatif
  • Berkarakter kuat
    • Gampang gaul

Walaupun mempunyai ciri-ciri yang umum, namun demikian tidak ada definisi siapa yang dapat menjadi wirausaha dan siapa yang tidak. Dapat dikatakan bahwa tiap orang mempunyai kesempatan dan dapat menjadi wirausahawan. Faktor-faktor tumbuhnya Jiwa wirausaha antara lain karena factor genetic/keturunan, pendidikan, dan keterpaksaan. Faktor keterpaksaan ini antara lain karena terkena PHK, pencari nafkah keluarga sakit atau meninggal, dan untuk membantu ekonomi keluarga.

Berwirausaha dapat dilakukan oleh siapa saja. Jadi siapa takut menjadi wirausahawan?