Memulai Usaha

Nur Hidayat

Dosen Jurusan Teknologi Industri Pertanian FTP – UB.

Dalam salah satu blog yang saya kelola yaitu http://permimalang.wordpress.com banyak petanyaan tentang jamur tiram terutama bagaimana memulai usaha jamur, atau sudah memulai usaha dan panen namun bingung memasarkan, kemana harus memasarkan dan sebagainya yang pda sasarnya adalah kesulitan yang muncul ketika memulai suatu usaha.

Saya tidak dapat membuat artikel ada blog tersebut karena memang kapasitas blog tersebut adalah sebagai media infrmasi tentang mikrobiologi sedang masalah bisnis tidak mungkin kami cantumkan. Oleh sebab itu melalui blog ini segala hal yang berkait dengan memulai usaha akan coba kami tampilkan.

Memulai suatu usaha memang dibutuhkan keberanian. Namun, kebernian saja tidaklah cukup. Pengetahuan tentang pasar dan potensi yang ada perlu pula diketahui. Pada tulisan awal ini saya akan mencoba menuliskan pengalaman beberapa orang yang memulai ushanya. Semoga ad manfaat yang dpat diambil.

Kisah pertama saya ambil dri pengalaman Saptuari Sugihart serang laki-laki mud kelahiran Yogyakarta 8 September 1979 pemilik Kedai Digital yang menjual produk mug, pin, jam, kaos dan sebagainya dengan omzet 300 juta per bulan untuk gerai yang ada di Jogja saja. Sebelum sukses dia mengalami jatuh bangun hingga akhirnya dia mempreoleh ide “banyak orang yang saling berebut merchandise artis. Mngapa ia tak menangkap pasar? Tentunya banyak orang yang ingin tampil lewat merchandise” berdasar ide itulah ia kemudian membeli computer dan printer. Pada 3 hari pertama hanya laku 3 mug namun ia tetp optimis dengan membidik segmen anak mud. Menurutnya kunci dalam berbisnis adalah: tidak kemrungsung (Jika hari pertama sudah menggerutu tidk laku maka bisa jadi akan benar-benar tidak laku) kemudian ikhtiar dan sedekah.

Kisah kedua adalah seorang pemudi di Solo yang bingung mau usha apa yang dapat diterima di Solo dan ada peluang karena belum ada atau masih langka. Dia memperoleh inspirasi tentang keberhasilan memuat souvenir replika atau cetakan kaki bayi yang laku di Jakrta lalu hal itu ia kembangkan di Solo untuk mencetak kaki atau tangan bayi yang dpat dijadikan kado buat si anak atau siapa saja “berbekal ide yang baru (belum ada) di suatu daerah namun mnjadi hal yang biasa dilakukan orang (memberi kado) maka itu adalah ladang untuk berbisnis” usaha ini kini mendapat respon yang cukup bagus dan menjadi sorang pengusaha muda yang cukup sukses di Solo.

Cerita ketiga adalah tentang keluarga di Malang. Seorang suami yang telah bekerja di sebuah KUD mendapau penghasilannya yang pas-pasan dan istrinya hanya berdiam diri di rumah padahal ia menyadari istrinya panda memasak (sering memasak untuk kepentingan RT) lalu ia mencoba membuka usaha bakso bakar dan es pasundan (tidak umum untuk Jawa Timur) Bambu Wulung dengan memilih lokasi yang memiliki pemandangan indah karena ada disebuah lereng dan dapat memandang kota. Usaha ini kini cukup berhasil dan membuat banyak orang meniru sehingga disekitarnya mulai muncul usaha-usaha warung yang serupa. Ide yang ia kembangkan adalah: “memanfaatkan kemampuan diri dan memilihh lokasi dengan menu yang khas”

Cerita ke empat adalah seorang penjual sop di Jogja yang dikenal dengan Sop Senggol Pengkolan dia menjual sp dengan menu yang berbeda yaitu terdiri dri ayam kampung, telur dan aneka sayuran. Yang membedakan dengan lainya adalah tanpa kunyit sehingga kuahnya terasa segar dan tidak terkesan kental ataupun anyir.

Cerita ke lima adalah saaat saya berjalan-jalan sya lihat ad warung burjo (bubur kacang hijau) yang cukup ramai dibandingkan sekitarnya, saya coba lihat apa bedanya, ternyata dia menyediakan fasilitas hotspot karena ia jualan di sekitar kampus. Suatu ide yangn menarik untuk mendatangkan knsumen dengan menyediakan sarana lain (padahal untuk hotspot juga harus bayar) denganh teknik kalau hotspot saja bayar sejumlah X rupiah kalau sambil beli makanan/minuman disitu untuk fasilitas hotspot hanya bayar 50% saja dan ini cukup menarik banyak pelanggan kini selain ia jualan burjo ia juga menjual jasa internet.

Dari lima cerita itu dapat kita petik pelajaran bahwa dalm memulai suatu usaha hendaknya:

  1. jangan cepat menyerah dan putus asa jika pada awal tidak begitu laku
  2. carilah sesuatu yang baru namun menarik
  3. pilih lokasi yang memenuhi keinginan pelanggan sehingga betah atau ingin datang lagi ke tempat kita
  4. Layani konsumen dengan kebutuhannya yang kadang tidak terucapkan namun harus dapat kita tangkap sehingga kita memiliki produk dengan spesifikasi yang meemnuhi harapan namun sulit diperoleh di tempat lain.
  5. sediakan fasilitas yang membuat konsumen betah atau menjadi setia

 

semoga sedikit cerita di atas mampu membangkitkan kita untuk memulai usaha. Tidak peduli kita masih muda atau sudah mau pensiun dari PNS mungkin.

Selamat berkarya semoga sukses.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: